MANAJEMEN LABA SEBAGAI RESPON ATAS PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN DI INDONESIA

MANAJEMEN LABA SEBAGAI RESPON ATAS PERUBAHAN
TARIF PAJAK PENGHASILAN BADAN DI INDONESIA

Tarif Pajak Penghasilan Badan di Indonesia sebelum tahun 2009 adalah tarif progresif, yaitu tarif pajak yang persentasenya menjadi lebih besar apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaannya semakin besar. Sejak diterbitkannya UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan yang mulai berlaku efektif pada tahun 2009, terjadi perubahan tarif Pajak Penghasilan Badan dari tarif progresif menjadi tarif tunggal, yaitu: (1) 28% (diefektifkan pada tahun 2009) dan 25% (diefektifkan pada tahun 2010) untuk perusahaan; dan (2) 5% lebih rendah dari tarif nomor (1) untuk perusahaan yang telah go public dan minimal 40% saham disetornya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan diberlakukannya tarif pajak yang baru ini, perusahaan khususnya yang telah go public akan sangat diuntungkan karena tarif pajak efektif perusahaan akan menjadi lebih kecil. Jika manajer berupaya untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan beban pajak, maka perubahan tarif ini akan memberikan insentif bagi manajer untuk menurunkan laba perusahaan pada tahun sebelum diefektifkannya perubahan tarif pajak tersebut.

Terkait dengan adanya perubahan tarif pajak, penelitian yang dilakukan oleh Scholes et al. (1992) telah membuktikan bahwa perusahaan di Amerika Serikat melakukan penundaan pengakuan laba kotor pada tahun sebelum diberlakukannya pengurangan tarif pajak. Penelitian yang dilakukan oleh Guenther (1994) di Amerika Serikat menemukan bukti empiris bahwa discretionary current accruals negatif pada tahun sebelum diberlakukannya pengurangan tarif. Hal ini mengindikasikan adanya manajemen laba yang dilakukan perusahaan dengan menunda earnings pada periode sebelum diefektifkannya pengurangan tarif. Kelemahan dari penelitian Guenther (1994) ini adalah hanya menggunakan insentif non pajak saja dalam mendeteksi perilaku manajemen laba perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Yin dan Cheng (2004) merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Guenther (1994). Yin dan Cheng (2004) menguji apakah perusahaan akan melakukan manajemen laba sebagai respon atas penurunan tarif pajak badan di Amerika Serikat. Yin dan Cheng (2004) membagi sampel penelitiannya ke dalam dua kelompok, yaitu: perusahaan yang memperoleh laba (profit firms) dan perusahaan yang mengalami kerugian (loss firms). Mereka menguji pengaruh dari insentif pajak dan insentif non pajak terhadap perilaku manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka merespon perubahan tarif pajak. Yin dan Cheng (2004) menggunakan pendekatan discretionary current accrual dalam mendeteksi manajemen laba dan menemukan bukti empiris, yaitu: (1) Manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yang memperoleh laba (profit firm) berhubungan signifikan dengan insentif pajak dan insentif non-pajak; dan (2) Manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yang mengalami kerugian (loss firm) hanya berhubungan signifikan dengan insentif non-pajak saja.

Di Indonesia, penelitian mengenai manajemen laba yang dikaitkan dengan perubahan tarif pajak telah dilakukan oleh Setiawati (2001), serta Hidayati dan Zulaikha (2004). Dalam mendeteksi adanya earning management, Setiawati (2001) maupun Hidayati dan Zulaikha (2004) menggunakan pendekatan discretionary accrual. Hasil dari penelitian Setiawati (2001) maupun Hidayati dan Zulaikha (2004) tidak berhasil membuktikan adanya manajemen laba dalam rangka merespon perubahan tarif pajak penghasilan di Indonesia. Kelemahan dari penelitian Setiawati (2001) maupun Hidayati dan Zulaikha (2004) terletak pada metodologi penelitiannya. Mereka hanya menggunakan uji beda saja dalam mendeteksi manajemen laba, padahal dibutuhkan pengujian statistik yang lebih mendalam untuk mendeteksi perilaku manajemen laba tersebut. Selain itu, penentuan tahun yang menjadi sorotan dalam penelitian Setiawati (2001) maupun Hidayati dan Zulaikha (2004) dianggap kurang tepat, karena mereka berasumsi bahwa perusahaan akan melakukan manajemen laba pada tahun setelah diberlakukannya perubahan tarif pajak. Seharusnya tahun yang menjadi sorotan dalam penelitian mereka adalah tahun sebelum diefektifkannya perubahan tarif pajak, karena jika manajer berupaya untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan beban pajak, maka perubahan tarif ini akan memberikan insentif bagi manajer untuk melakukan rekayasa laba perusahaan pada tahun sebelum diefektifkannya perubahan tarif pajak (Scholes et al, 1992; Guenther, 1994; Maydew, 1997; Yin dan Cheng, 2004).

[su_button url=”https://drive.google.com/open?id=0B-uYSqtGPj4ZM3dJNzJzWDRtWFE” target=”blank” style=”flat” background=”#f33333″ size=”8″ center=”yes” radius=”0″ icon=”icon: cloud-download”]DOWNLOAD[/su_button]

Comments

Klik disini